Wisata Malam Di Indonesia, Sudah Baiklah Belum Sih?

Posted on

Bianglala Mata Legenda TMII (Randy/detikTravel)

Jakarta – Indonesia sesungguhnya punya banyak destinasi wisata malam yang oke. Namun, wisata malam di Indonesia masih dapat dikembangkan lebih baik lagi.

Wisata malam tidak selalu berkonotasi negatif. Ada banyak hal positif sesungguhnya yang dapat diambil dari wisata malam. Bukti nyatanya dapat kita lihat dari beberapa negara tetangga menyerupai Thailand yang punya Asiatique, hingga Singapura dengan Clarke Quay-nya.

Menurut pengamat dan praktisi yang sudah berkecimpung usang di dunia pariwisata, Tedjo Iskandar, sesungguhnya Indonesia punya potensi untuk bersaing dengan negara-negara tersebut. Kuncinya ada di 3 hal, yaitu kebersihan, keamanan, serta akomodasi yang prima.

“Jakarta belum punya destinasi yang menyerupai itu, tapi sesungguhnya Jalan Jaksa dapat dibentuk jadi destinasi wisata malam. Kita rapihin, dibimbing, dan yang penting bersih. Di Bangkok itu higienis lho jualannya. Kita ajari, bila perlu pakai sarung tangan. Makara kita dapat pesan contohnya sate ditampilkan dengan presentasi yang bersih, orang niscaya tertarik,” kata Tedjo lewat sambungan telepon dengan detikTravel, Kamis (19/1/2017).

Faktor lain yang perlu diperhatikan untuk menyebarkan wisata malam di Indonesia yaitu soal keamanan dan kenyamanan. Menurut Tedjo, wisatawan akan banyak tiba bila tidak ada preman.

Tedjo Iskandar (dok Facebook)Tedjo Iskandar (dok Facebook)

“Yang penting juga jangan ada preman. Wistawan itu pengen nyaman dan aman. Jangan ada lah itu yang sok-sok mabuk terus jadi preman, malak, wisatawan nggak suka lah. Pengamen juga mesti kita ajarin, gimana yang santun, terus mainin lagu-lagu bahasa abnormal yang oldies, yang dapat karaoke. Jadinya wisatawan asyik ikut nyany-nyanyi,” ungkap Tedjo.

Soal fasilitas, yang dibutuhkan untuk menyebarkan wisata malam ini yaitu keberadaan toilet, serta kawasan parkir kendaraan beroda empat yang nyaman. Tedjo menyebut Indonesia dapat mencontoh Thailand untuk duduk kasus ini.

Untuk yang suka dengan wisata halal, Tedjo menyarankan supaya destinasi wisata belanja menyerupai Tanah Abang dibuka hingga malam, jadi wisatawan dapat berbelanja barang-barang atau buah tangan umroh dan haji dapat hingga malam hari.

Satu lagi yang tak kalah penting yaitu pembenahan Kawasan Kota Tua, alasannya potensinya sangat besar. “Kota Tua itu dibikin nyaman. Pedagangnya dibikini koperasi. Sayang ya, Kota Tua itu elok sekali bila malam,” ujar Tedjo.

Suasana wisata malam di Malioboro, Yogyakarta (Edzan Raharjo/detikTravel)Suasana wisata malam di Malioboro, Yogyakarta (Edzan Raharjo/detikTravel)

Potensi wisata malam lainnya berdasarkan Tedjo yaitu di sekitar Monas dan Balai Kota. Menurut Tedjo, di sekitar lokasi itu dapat dibentuk semacam Bianglala menyerupai di Asiatique, yang menghadap ke arah Monas, sehingga wisatawan dapat melihat pemandangan malam Jakarta yang indah.

“Bisa dibikin bianglala menyerupai Asiatique, yang menghadap Monas jadi wisatawan dapat foto-foto. Bagus itu,” imbuh Tedjo.

Uraian yang disampaikan Tedjo tadi dapat diwujudkan asalkan semua pihak bersinergi dan berkomitmen untuk memajukan pariwisata Indonesia, alasannya sejatinya potensi Indonesia di bidang pariwisata sangat besar dan dijamin tidak kalah dengan negara lain di dunia.

“Asalkan semua berkomitmen dan sinergi, tidak akan kalah kita,” tutupnya.


Sumber detik.com

Prambanan Trans bergerak dibidang Jasa Transportasi yang beroperasi di Yogyakarta. Berdiri sejak 2007 kami memiliki visi untuk menyediakan sewa mobil dengan Excellent Service untuk mewujudkan misi kami menjadi perusahaan Sewa Mobil Terbaik dan Terpercaya di Yogyakarta.
Untuk mewujudkan misi kami menjadi Sewa Mobil Terbaik dan Terpercaya di Yogyakarta, kami memiliki Tim yang terbaik. Staff Management yang profesional serta layanan pelanggan yang ramah siap melayani anda.
Prambanan Trans memiliki driver yang sudah terpilih melalui seleksi yang sangat ketat, keterampilan mengemudi handal, ramah, mengusai rute perjalanan dan memiliki wawasan pariwisata.