Satu Lagi Hutan Pinus Instagramable Di Bantul

Posted on

Pinus Pengger Bantul (Pradito Rida Pertana/detikcom)

Bantul – Bantul punya satu hutan pinus yang Instagramable. Namanya Pinus Pengger. Traveler sanggup foto-foto narsis di sini buat dipamerkan di Instagram.

Selain populer dengan kebun buah Mangunan, Kecamatan Dlingo mempunyai sejumlah tempat wisata yang layak dikunjungi. Salah satunya Pinus Pengger. Tak hanya menyampaikan pemandangan alam dari ketinggian, Pinus Pengger juga mempunyai banyak spot foto yang Instagramable.

Untuk mencapai tempat wisata yang berlokasi di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini, pengunjung hanya perlu melaksanakan perjalanan darat sejauh 23 kilometer dari jantung Kota Yogyakarta ke Desa Mangunan, Dlingo.

Sesampainya di Mangunan, pengunjung hanya perlu mengikuti petunjuk arah ke daerah hutan pinus. Pinus Pengger sendiri berlokasi tidak jauh dari puncak Becici.

Sesampainya di Pinus Pengger, detikcom eksklusif disambut ratusan pohon pinus yang memenuhi tempat wisata Pinus Pengger. Selain itu, banyaknya pohon pinus menciptakan suasana si Pinus Pengger begitu asri dan teduh.

Menyusuri jalan setapak (Pradito/detikcom)Menyusuri jalan setapak (Pradito/detikcom)


Menelusuri jalan setapak di dalam Pinus Pengger, tampak sebuah replika telapak tangan insan berukuran besar berada di antara perbukitan pinus. Melongok lebih jauh, replika tersebut ternyata diperuntukkan untuk spot foto.

Hal itu tampak dari beberapa pengunjung yang berpose ria di tengah-tengah replika telapak tangan tersebut. Bahkan, alasannya berlatar belakang pemandangan Kota Yogyakarta dari ketinggian menciptakan beberapa pengunjung harus mengantri untuk berswafoto di replika tersebut.

Selain replika telapak tangan insan dari ranting, ternyata terdapat pula replika tangan insan tengah mengacungkan jempol di Pinus Pengger. Bahkan, khusus di spot foto tersebut disediakan tangga supaya pengunjung sanggup berada di atas replika tangan dikala berswafoto.

Tak hanya bentuk tangan insan saja, Pinus Pengger ternyata mempunyai beberapa spot foto lain berbentuk pohon dan lorong. Di mana sebagian spot foto itu terbuat dari ranting pohon.

Spot foto di Pinus Pengger (Pradito/detikcom)Spot foto di Pinus Pengger (Pradito/detikcom)


Salah satu operator tempat wisata Pinus Pengger, Sumar (37) menjelaskan bahwa tempat wisata yang berada di tengah hutan pinus ini masih terbilang baru. Mengingat Pinus Pengger gres dibuka semenjak bulan April tahun 2016.

“Pinus Pengger ini memang masih terbilang gres dibanding tempat wisata lain di hutan Pinus Dlingo. Selain menyampaikan pemandangan alam, di sini (Pinus Pengger) ada 7 spot foto dengan bermacam-macam bentuk telapak tangan, jempol, jembatan setengah lingkaran,” katanya dikala ditemui di Pinus Pengger, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Sabtu (18/5/2019).

“Dan semua spot foto menghadap ke barat, alasannya biar berlatar belakang pemandangan Yogyakarta dari ketinggian,” sambung Sumar.

Warga Sendangsari, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Bantul ini melanjutkan, bahwa Pinus Pengger memang mengedepankan konsep spot foto yang terbuat dari ranting pohon lantana camara. Menurut Sumar, ada alasan khusus mengapa ranting dipilih sebagai materi baku untuk menciptakan spot foto dengan bermacam-macam bentuk.

“Karena pas awal buka dulu aneka macam ranting (lantana camara) di sini, terus pas bersih-bersih resah mau dibuang kemana rantingnya. Nhah, dikala itu muncul ide, daripada dibuang mending rantingnya dimanfaatkan untuk menciptakan spot foto tadi dan ternyata jadinya bagus,” ujarnya.

Spot foto jempol raksasa (Pradito/detikcom)Spot foto jempol raksasa (Pradito/detikcom)


“Untuk pembuatannya sendiri dengan teknik menganyam, jadi ranting-ranting itu dianyam sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kalau waktu pengerjaan ya sesuai dengan tingkat kesulitan bentuk,” imbuh Sumar.

Bahkan, alasannya menjadi magnet tersendiri bagi Pinus Pengger, dikala ini pengelola menciptakan spot foto di Pinus Pengger. Spot itu berupa replika tangan yang sedang mengacungkan jempol.

“Itu yang gambar (tangan mengacungkan) jempol itu gres seminggu dibuka untuk umum. Bedanya dengan spot yang lain, untuk spot foto gambar jempol ini dipasang tangga supaya wisatawan sanggup foto di antara replika jempol,” ucapnya.

BACA JUGA: Hutan Pinus yang Indah Ini Bukan di Pulau Jawa

Dilanjutkan Ketua Koperasi Notowono atau pengelola objek wisata di Desa Terong, Muntuk dan Mangunan Kecamatan Dlingo, Bantul, Purwo Harsono, bahwa pemilihan nama Pinus Pengger sendiri bukan tanpa alasan. Menurutnya, pemilihan nama Pengger menyesuaikan kondisi alam di hutan pinus Dlingo.

“Kenapa pengger? Karena pengger itu artinya punggung gunung dan alasannya di punggung gunung ada hutan pinus maka namanya Pinus Pengger,” ujarnya.

Ada juga spot foto lainnya (Pradito/detikcom)Ada juga spot foto lainnya (Pradito/detikcom)


Terkait pemilihan bentuk tangan mengacungkan jempol sebagai spot foto gres di Pinus Pengger, laki-laki yang kerap disapa Ipung ini menyampaikan bahwa hal itu alasannya sebelumnya telah dibangun spot foto telapak tangan. Terlebih replika telapak tangan yang dinamai pancawara itu berada di samping spot foto berbentuk tangan sedang mengacungkan jempol.

“Itu yang gambar (tangan mengacungkan) jempol itu gres seminggu dibuka untuk umum. Bedanya dengan spot yang lain, untuk spot foto gambar jempol ini dipasang tangga supaya wisatawan sanggup foto di antara replika jempol,” ucapnya.

Dilanjutkan Ketua Koperasi Notowono atau pengelola objek wisata di Desa Terong, Muntuk dan Mangunan Kecamatan Dlingo, Bantul, Purwo Harsono, bahwa pemilihan nama Pinus Pengger sendiri bukan tanpa alasan. Menurutnya, pemilihan nama Pengger menyesuaikan kondisi alam di hutan pinus Dlingo.

“Kenapa pengger? Karena pengger itu artinya punggung gunung dan alasannya di punggung gunung ada hutan pinus maka namanya Pinus Pengger,” ujarnya.

Terkait pemilihan bentuk tangan mengacungkan jempol sebagai spot foto gres di Pinus Pengger, laki-laki yang kerap disapa Ipung ini menyampaikan bahwa hal itu alasannya sebelumnya telah dibangun spot foto telapak tangan. Terlebih replika telapak tangan yang dinamai pancawara itu berada di samping spot foto berbentuk tangan sedang mengacungkan jempol.

“Ya alasannya sudah ada yang berbentuk tangan jadi dilanjutkan dengan yang berbentuk ibu jari. Kalau makna sederhananya, ibu jari diibaratkan dengan ibu pertiwi,” katanya.

Spot foto hammock (Pradito/detikcom)Spot foto hammock (Pradito/detikcom)


Sumar kembali menjelaskan, spot foto di Pinus Pengger sejatinya diperuntukkan untuk wisata malam hari. Mengingat semua spot foto menghadap ke arah barat, ialah menghadap eksklusif ke Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Apalagi, nyala lampu yang tampak dari ketinggian menciptakan pemandangan dari tiap spot foto sangat memanjakan mata.

“Pinus Pengger ini buka dari jam 7 pagi hingga jam 11 malam, dan steril dari pengunjung jam 12 malam. Sampai malam alasannya memang aslinya untuk wisata malam dan jikalau foto-foto pas malam hari pemandangannya sangat bagus,” katanya.

Untuk biaya masuk ke Pinus Pengger sendiri terbilang sangat terjangkau, mengingat satu orang hanya dikenakan tarif Rp 3 ribu, tarif tersebut sudah mencakup biaya asuransi Rp 500. Sedangkan untuk biaya parkir motor Rp 2 ribu, kendaraan beroda empat Rp 5 ribu, kendaraan beroda empat travel Rp 15 ribu dan untuk bus besar Rp 20 ribu.

“Tarif itu berlaku untuk semua wisatawan, jadi tidak ada perbedaan tarif untuk turis dan wisawatan lokal,” pungkasnya.


Sumber detik.com

Prambanan Trans bergerak dibidang Jasa Transportasi yang beroperasi di Yogyakarta. Berdiri sejak 2007 kami memiliki visi untuk menyediakan sewa mobil dengan Excellent Service untuk mewujudkan misi kami menjadi perusahaan Sewa Mobil Terbaik dan Terpercaya di Yogyakarta.
Untuk mewujudkan misi kami menjadi Sewa Mobil Terbaik dan Terpercaya di Yogyakarta, kami memiliki Tim yang terbaik. Staff Management yang profesional serta layanan pelanggan yang ramah siap melayani anda.
Prambanan Trans memiliki driver yang sudah terpilih melalui seleksi yang sangat ketat, keterampilan mengemudi handal, ramah, mengusai rute perjalanan dan memiliki wawasan pariwisata.