Dewi Peri, Desa Wisata Berfasilitas Lengkap Di Lereng Gunung Merapi

Posted on


Sleman – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus menjalankan aneka macam taktik untuk mendatangkan wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. Salah satunya dengan atraksi wisata berupa desa wisata dan homestay.

Desa wisata diyakini sanggup mendatangkan banyak wisatawan alasannya yaitu keindahan alam di sekitarnya yang memperlihatkan pengalaman berkesan. Selain itu juga dari fasilitasnya yang menciptakan wisatawan menginap dengan nyaman.

Anda sanggup tiba ke Desa Wisata Pentingsari atau sering disebut dengan Dewi Peri di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 25 km dari Bandara Adisucipto atau dari sentra Kota Yogyakarta.

Dewi Peri sanggup menampung sekitar 1.000 tamu dan menyediakan lahan parkir yang luas.

“Asal beda acara. Misal sebagian outbond, sebagian kuliah lapangan, yang lainnya kemah, dan kelompok lainnya mencar ilmu gamelan dan seterusnya. Kalau semuanya satu kegiatan kami tak sanggup,” ujar Ketua Desa Wisata Pentingsari Doto Yogantara.

Dewi Peri memperlihatkan akomodasi yang menarik. Ada tanah lapang untuk kemah, outbond, empat rumah joglo, dan 7 pendopo untuk workshop atau kuliah lapangan. Selain itu, ada lahan sawah untuk mencar ilmu bertani.

Desa wisata ini juga memperlihatkan atraksi wisata yang menarik. Wisatawan sanggup bermain dan mencar ilmu gamelan Jawa atau karawitan. Ada juga pembinaan menciptakan selongsong ketupat dengan janur.

Bahkan wisatawan sanggup menanam padi dan membajak sawah. Bagi yang suka kopi, ada juga wisata menciptakan kopi.

“Bisa pula melaksanakan treasure hunt, menciptakan gunungan dari sayur-sayuran dan buah-buahan lokal,” kata Doto.

Ada sekitar 80 homestay yang sanggup ditempati dan 40 orang pemandu yang akan mengajak wisatawan berkeliling di Dewi Peri. Sewa homestay-nya murah alasannya yaitu ditetapkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Misalnya ada paket live in 2 hari 1 malam dengan harga Rp 195 ribu/orang. Paket ini sudah mendapat akomodasi penyambutan tarian tradisional/punokawan, pembagian homestay, jelajah desa, workshop pertanian dan perkebunan, susur sungai, bajak sawah, tanam padi, tangkap ikan, dan bermain bola lumpur.

Ada juga kegiatan eksplorasi seni budaya berupa mencar ilmu gamelan, tari tradisional, membatik, kreasi janur, dan wayang suket. Sedangkan eksplorasi ekonomi desa berupa pembuatan tempe, kopi, dan olahan jamur.

Kemudian paket live in 3 hari 2 malam dipatok dengan harga Rp 360ribu/orang. Mendapatkan embel-embel kegiatan bakti sosial berupa penataan akomodasi umum/bedah rumah/penghijauan/taman bacaan. Lalu juga sanggup mengikuti kegiatan ekonomi desa ditambah pengolahan ubi dan flora herbal.

Untuk paket 4 hari 3 malam akan mendapat embel-embel fun game menyerupai permainan outbond dan malam api unggun.

“Biaya-biaya tersebut sudah termasuk menginap dan makan 3 kali di homestay, welcome dance, fasilitator kegiatan, penggunaan aula, lapangan, soundsystem dan perlengkapan jadwal yang diperlukan,” papar Doto.

Dewi Peri merupakan proyek yang mengutamakan konsep community based tourism. Maksudnya dengan melibatkan masyarakat dalam pariwisata sampai mendapat manfaat langsung.

Selain mendapat pendapatan dari sewa homestay, warga sanggup mendapat uang dari pekerjaan sehari-hari yakni dari atraksi wisata.

“Misalnya ia petani kopi. Lalu dikala bekerja menyangrai atau menumbuk kopi ada wisatawan yang melihat atau ikut aktivitasnya, maka petani itu akan mendapat bayaran dari setiap tamu yang bersama dia,” kata Doto.

Begitu pula dengan keterlibatan masyarakat dalam penyediaan makan untuk para tamu sampai menjadi pemandu, pendamping outbond, pengajar kerajinan janur, dan instruktur gamelan. Semuanya mendapat bab dari Pokdarwis.

Hingga 2016, 80% masyarakat sudah menikmati multiplying effect dari pariwisata. Omset per tahun juga terus meningkat. Saat merintis awal pada 2008 hanya Rp 80 juta/tahun, pada 2009 melonjak menjadi Rp 250 juta. Kemudian menjadi Rp 500 juta pada 2010 dan Rp 600 juta pada 2014 dan sekitar Rp 2 miliar pada 2016.

Menteri Pariwisata Arief Yahya turut angkat bicara mengenai desa wisata dan homestay yang menjadi programnya dalam menggaet wisnus dan wisman. “Target kami 2019 terbangun 100 ribu homestay, 2017 ini 20 ribu homestay desa wisata yang sudah digital,” ujar Arief.

Pada 18-19 Mei 2017 mendatang, Kemenpar juga akan menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata bertema homestay dan desa wisata.


Sumber detik.com

Prambanan Trans bergerak dibidang Jasa Transportasi yang beroperasi di Yogyakarta. Berdiri sejak 2007 kami memiliki visi untuk menyediakan sewa mobil dengan Excellent Service untuk mewujudkan misi kami menjadi perusahaan Sewa Mobil Terbaik dan Terpercaya di Yogyakarta.
Untuk mewujudkan misi kami menjadi Sewa Mobil Terbaik dan Terpercaya di Yogyakarta, kami memiliki Tim yang terbaik. Staff Management yang profesional serta layanan pelanggan yang ramah siap melayani anda.
Prambanan Trans memiliki driver yang sudah terpilih melalui seleksi yang sangat ketat, keterampilan mengemudi handal, ramah, mengusai rute perjalanan dan memiliki wawasan pariwisata.